Tampilkan postingan dengan label Tips pameran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips pameran. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 18, 2009

Belajar ala Tukul Arwana

Seorang teman pernah bertanya, "BTL activities itu definisinya apa ya? Contoh kegiatannya bagaimana? Tolong dong, besok lusa saya presentasi ke Klien nih, penjelasannya kirim by email ya...". Waduh, dapat pe-er lagi deh...

Jujur saja saya bukan seorang marketer atau pernah belajar marketing, jadi soal definisi BTL atau 'Below The Line activities' sebenarnya saya juga sama gak mudengnya dengan teman tersebut. Memang benar bahwa lingkup pekerjaan saya di DisainKAMI erat berhubungan dengan istilah itu. Akan tetapi kalau sudah menyangkut 'definisi'... wah, saya bukan the expert one. :)

Alhasil, demi pertemanan saya terpaksa belajar lagi. Jadi ingat kata Tukul Arwana di acara 4mata, "Hidup kok belajar terus". Haha! Dan inilah hasil belajar saya yang nabrak sana-sini dan comot sana-sini :)

Ibu Amalia E. Maulana, seorang praktisi marketing dan dosen pasca-sarjana di dalam blog pribadinya mengatakan;

Sebenarnya istilah LINE (yang berarti garis) dalam ATL dan BTL itu berawal dari kategorisasi dalam neraca keuangan. Kategori pertama berlaku bagi kegiatan pemasaran yang kena komisi biro iklan. Ini dimasukkan dalam ‘cost of sales’ dan dikurangi sebelum ditentukan gross profit. Kategori kedua untuk kegiatan pemasaran non iklan yang tidak kena komisi. Biayanya dimasukkan dalam biaya operasional dan dikurangi sebelum ditentukan net profit.

Kedua jenis budget tersebut dipisahkan dengan sebuah garis (LINE). Yang mengandung unsur komisi, ditulis di bagian atas neraca, disebut sebagai Above the line (ATL). Sisanya, dijadikan satu di bawah garis tadi, disebut kelompok Below the line (BTL). Sudah banyak yang melupakan definisi awal komunikasi ATL vs BTL tersebut.

Jika menurut Wikipedia; Below The Line dijelaskan sebagai berikut:

Below the line sales promotions are short-term incentives, largely aimed at consumers. With the increasing pressure on the marketing team to achieve communication objectives more efficiently in a limited budget, there has been a need to find out more effective and cost efficient ways to communicate with the target markets. This has led to a shift from the regular media based advertising.

Jadi kalau boleh disederhanakan, aktifitas Below The Line itu memiliki karakter:
1. Target audiens-nya terbatas
2. Media atau kegiatannya memberikan audiens kesempatan untuk merasakan, menyentuh atau berinteraksi, bahkan langsung action membeli.
3. Aplikasinya pada Event, Sponsorship, Sampling, Point-of-Sale (POS) materials, Consumer promotion, Trade promotion, dll

Dalam perkembangan saat ini, dengan makin banyaknya media-media baru iklan, terutama yang berbasis teknologi tinggi, batasan ATL dan BTL dirasa semakin kabur. Bisa kita bayangkan berapa banyak budget yang harus dianggarkan untuk bertempur di semua media itu demi iklan.

Atau barangkali bisa kita balik analoginya. Sebagai 'sasaran' iklan, dari sejak kita membuka mata pagi hari sampai mau tidur malam hari gempuran iklan terus menggedor. Semua produk berebut masuk ke dalam memory otak kita. Baca koran, iklan... dengar radio, iklan... lihat TV, iklan... bahkan di cangkir kopi-pun ada iklan: logo produk pasta gigi pemberi hadiah cangkir itu. Lebih hebatnya lagi, iklan juga mulai masuk ke dalam 'wilayah pribadi' anda. Handuk mandi yang dipakai juga ada logo sabun pencuci! Alamak... Anda adalah tawanan/sandera iklan di rumah anda sendiri.

Ketika anda melangkahkan kaki keluar rumah untuk bekerja, apakah anda lolos sebagai sandera iklan? Eit, tunggu dulu... Coba tengokkan ke kanan-kiri, berapa banyak billboard, baliho, spanduk, pamflet, dan selebaran iklan yang berusaha tampil masuk ke dalam lensa mata kita. Apakah anda melihat iklan produk di belakang bak truk ketika berhenti di lampu merah? Juga foto-foto wajah tak dikenal para Caleg Pemilu 2009 di pohon depan rumah anda?

Sst..., sadarkah anda saat ini sedang membaca sebuah iklan? (hint: jawabannya ada di akhir tulisan ini) :)

Ya, seperti itulah memang tujuan iklan, berusaha masuk dan menguasai memory otak kita. Kalau perlu gempurannya 360derajat. Anda bisa menghitung jumlah keseluruhan produk iklan yg menggempur anda sejak bangun tidur hingga malam jelang tidur? Anda adalah orang yang luar biasa apabila dapat menyusun daftarnya, karena saya yakin jawaban anda adalah, " Arrgh... EGP lah, emang gue pikirin semua iklan itu?"

Tepat seperti itulah yang disadari oleh para Marketer dan Praktisi Biro Iklan. Gempuran yang menggebu dari iklan terhadap prospek di semua sisi kehidupannya malah membuat kebingungan dan alih-alih mengingat, bisa jadi malah prospek mencibir. Sehingga kemudian dalam perkembangannya dikenal istilah IMC; Integrated Marketing Communication. Sebuah peleburan batas antara ATL dan BTL.

Menurut Wikipedia, Integrated Marketing Communications (IMC), according to The American Marketing Association, is “a planning process designed to assure that all brand contacts received by a customer or prospect for a product, service, or organization are relevant to that person and consistent over time." Yang dalam praktek-nya IMC bertujuan untuk memanipulasi semua pancaindera prospek dan konsumer. Anda akan percaya, bahwa kecap ini adalah nomor satu apabila anda telah merasakan kelezatannya, membaui aromanya, merasakan kelembutan cairannya di tangan anda, menggenggam botol kemasannya, atau bahkan mendengar suaranya ketika di goreng. Itulah IMC. Kontak langsung dengan pancaindera.

Atau ada juga yang mengistilahkan IMC menjadi TTL, 'Trough The Line'. Istilah ini secara harafiah berarti ‘cakupan dari ujung satu ke ujung lainnya’. Istilah TTL diperkenalkan untuk menjembatani pihak perusahaan jasa komunikasi periklanan yang ingin membuat gambaran kongkrit terhadap segmen jasa kreatif komunikasi yang ditawarkannya. Esensinya tetap peleburan antara ATL dan BTL. Ada kegiatan ATL yang mengandung unsur BTL. Atau sebaliknya, BTL yang mengandung unsur ATL. Contoh ATL dengan BTL adalah iklan sebuah brand di majalah yang sekaligus ditempeli sample produknya. Sedangkan contoh BTL dengan ATL: kegiatan event di outlet tertentu yang disebarluaskan lewat iklan radio dan sms.

Menurut ibu Amalia E. Maulana, dengan situasi baru seperti sekarang ini, dimana jasa yang ditawarkan oleh biro iklan dan biro pendukung kegiatan komunikasi non-iklan sudah sangat terfragmentasi, penggunaan istilah komunikasi ATL vs BTL menjadi tidak relevan lagi, dan sudah waktunya ditinggalkan. Mungkin ada baiknya mulai sekarang kita lupakan saja istilah LINE. Forget the line! It is the end of the line. Adapun istilah baru, IMC atau TTL menurutnya tidak akan menjadi solusi untuk memperjelas perbedaan konsep dan prinsip dalam kegiatan komunikasi pemasaran.

Sebagai gantinya, sebaiknya kegiatan komunikasi pemasaran dibagi dari segi tujuan komunikasi itu sendiri. Dalam proses brand building, ada dua tahap penting yang cukup signifikan bedanya yaitu (1) tahap ”Awareness+ Image building” dan (2) tahap “Interest, Trial dan Loyalty building” (yang popular dengan istilah Brand Activation).


Gambar diatas adalah booth Telkomsel Education Center yang berada di Bandung Electronic Center (BEC), Bandung, sebagai contoh kegiatan tahapan Awareness dan Image Building. Kegiatan pameran yang dijadwalkan berlangsung hingga akhir February 2009 ini lebih menitik beratkan pengalaman langsung prospek terhadap produk Telkomsel. Di booth tersebut anda bisa merasakan kecepatan konektivitas jaringan Telkomsel dan berinteraksi langsung mencoba feature-feature unggulan produknya. Yang menarik adalah, ketika anda mencoba konektivitas 3G Telkomsel secara gratis melalui handset yang tersedia, saat itu juga tampilan di layar screen akan sama persis seperti tampilan di handset yang anda pakai. Begitu juga dengan tampilan di laptop yang tersedia, yang koneksi internetnya menggunakan kartu Telkomsel, langsung tampil pada layar besar di screen. Real time, real promise, tidak ada kebohongan iklan :)



Gambar diatas adalah contoh tahapan 'Interest, Trial and Loyalti Building'. Program ini disebut Telkomsel Bus-Buzz, yaitu sebuah Mobile-cafe dimana prospek bisa langsung mencoba semua feature Telkomsel dengan treatment ala cafe yang cozy, ramah, no-gap at all. Design yang sempat di develop oleh DisainKAMI ini sayangnya tidak bisa terealisasi oleh karena proyek ini dibatalkan tanpa sebab yang jelas :(

Sekitar 2 tahun yang lalu saya pernah mengikuti workshop Markplus Institute of Marketing, dan pak Hermawan Kartajaya sebagai narasumbernya mulai memperkenalkan istilah New Wave Marketing. Apa pula, ini? Untuk bahasan lebih jelas tentang New Wave Marketing, anda bisa membeli bukunya yang telah diterbitkan beberapa waktu lalu. Oleh karena keterbatasan saya tentang ilmu Marketing dan juga belum membaca buku tersebut (haha..!) mohon maaf apabila saya hanya bisa mengerti sepotong saja.

Ketika di workshop itu (sekitar awal tahun 2007) pak Hermawan mengatakan, bahwa New Wave Marketing adalah kegiatan periklanan yang memanfaatkan media Online, oleh karena perkembangan teknologi sehingga media iklan juga ikut bergeser. Portal berita online, Forum internet, Blog, Facebook, Youtube, Digg, Stumble Upon, dan lain-lain adalah media iklan masa depan. Media dimana para prospek/konsumen bisa mengelu-elukan produk kesayangannya, berbagi info dan berinteraksi dengan sesama pelanggan lainnya, mengkritisi, complain atau bahkan mencaci-maki tentang suatu produk. Ya, itulah New Wave Marketing. Menempatkan prospek ke dalam sisi aktif interaksi sebuah produk. Ingatlah, bahwa prospek sudah jenuh dengan gempuran iklan 'kecap nomor 1'. Prospek anda lebih percaya kepada omongan orang lain! Itulah yang terjadi. Bukankah hal ini pula yang ingin anda capai lewat iklan? Words of mouth. (Saya jadi ingat Presiden Amerika Barack Obama, yang rajin berinteraksi dengan konstituen-nya melalui media online)

Jika saya boleh menyederhanakan, prospeklah yang mencari iklan anda. Bukan iklan yang menggempur dan memaksakan diri bertengger di benak memory prospek/konsumen.

Nah, inilah jawaban pertanyaan saya tadi tentang 'sadarkah anda saat ini sedang membaca iklan?' Jika anda membaca hingga tulisan ini, maka jangan salahkan saya apabila DisainKAMI menempati posisi atas di memory anda. Karena anda yang mencari iklan di blog ini, bukan DisainKAMI, haha..!

Terimakasih.

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, Juli 23, 2008

Berubah itu Menakutkan

Suatu kali DisainKaMI pernah di telepon oleh staff marketing suatu perusahaan provider besar Indonesia yang berwarna biru. "Tolong dong, kita mau pameran produk konten 3G. Saya pribadi kepinginnya bisa tampil baru, freshlook, modern,hi-tech, lepas dari apa yang pernah kita kerjakan sebelumnya. Kalau ada design kan nanti saya lebih enak membujuk management". Begitu bunyi telepon dari si-Mbak marketing.

Terlihat 'berbeda' di pameran/event kadang bisa menakutkan bagi beberapa perusahaan di industri conservative, seperti bank, insurance atau konstruksi/engineering. Pilihan untuk 'melarut' dan kompromi biasanya lebih bisa diterima oleh semua pihak sebagai philosophy populer. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh si-Mbak Marketing tadi untuk bisa membujuk 'upper-management' mencoba sesuatu yang baru supaya booth-nya bisa menarik perhatian?

1. Dekati salah satu 'petinggi management' yang dianggap openminded. Sukur sukur kalau beliau juga ramah. Targetkan satu petinggi saja, semakin banyak semakin repot hehehe... Menangkan hatinya dengan ide baru anda yang segar itu. Terus mintalah beliau untuk juga membujuk grup 'papan-atas' lainnya.

2. Ambil sebuah langkah bayi. Mintalah untuk diberi keleluasaan berexperiment dengan event yang kecil dulu. Pilihlah event yang kecil dan yang kurang penting. Dokumentasikan kesuksesan dan kemajuan event itu dengan tolok ukur yang telah saya berikan diposting sebelumnya. Jadikan dokumentasi anda itu sebagai amunisi untuk 'menodong' management.

3. Jangan terapkan konsep lama yang membosankan. Buatlah konsep baru. Begitu juga ketika anda mempresentasikan dokumentasi event, jangan memulai dengan perbandingan. Apalagi dengan kata pembuka, "Ini yang biasanya kita lakukan, dan ini yang baru". Jangan. Lebih baik lakukan dengan sesuatu yang baru, "Ini yang kita lakukan!" secara bersemangat. Akan lebih afdol kalau seandainya yang baru itu memiliki 2 pilihan. Dan keduanya adalah tetap sesuatu yang baru! haha..!

4. Turun ke bawah. Mintalah salah satu executive untuk bisa meluangkan waktunya melihat jalannya pameran/event baru yang anda kerjakan itu. Biarkan beliau mendapatkan perspektifnya sendiri. Seeing is believing, bukan?

DisainKaMI juga pernah mendapat 'order' membuat design re-branding Bank International Indonesia - wealth management. Konsep dan philosophy nya sendiri sudah dibuat oleh biro iklan yang menangani. Jadi DisainKaMI cuman kebagian meng-create ambiance ballroom hotel dan panggungnya. Ini dia disainnya:









Lantas bagaimana dengan cerita tentang si-Mbak Marketing di awal cerita tadi? Tidak berhasil. Si-Mbak tersebut tidak berhasil menjalankan misinya. Entah dimana letak gagalnya. Ternyata 'berubah' itu cukup menakutkan ya?....

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, Juli 22, 2008

TIP: 'Terpaksa-Ikut-Pameran'

Pernah seorang member milis marketing mem-post-kan keluhannya tentang mahalnya biaya yang harus dikeluarkan jika setiap kali TIP ('terpaksa-ikut-pameran') demi menjaga brand awareness. Barangkali tips dibawah ini bisa membantu, apakah ke'terpaksaan-ikut-pameran' itu berbuah hasil atau selayaknya stop-sampai-sini saja. Semoga bisa membantu...

Tips pameran kali ini saya terjemahkan dari Marc Goldberg, CME, Partner and Founder Marketech Inc., Westboro, MA. Sebuah perusahaan konsultan pelatihan dan pengukuran pameran dan event di Amerika.

Keberhasilan harus diukur

Peningkatan keberhasilan pameran/event dimulai dari pengukuran return on investment (ROI). Jangan biarkan keterbatasan waktu, dana atau pengetahuan tentang teknik pengukuran menghambat anda mengevaluasi usaha yang telah dilakukan. Selain nantinya anda akan temukan suatu strategi untuk meningkatkan program acara, juga sekumpulan data yang bisa membantu anda mengembangkan program acara di iklim kompetitif sekarang ini.

Agar efektif, ROI anda harus terukur dengan:
1. Ukur dan pahamilah potensial pengunjung pameran/event
2. Identifikasikan kekuatan dan kelemahan dari program pameran/event anda.
3. Ukurlah peningkatan yang ada berbanding dengan objective/goals.
4. Tentukan tolok ukur nilai (benchmark) keberhasilan anda untuk menggambarkan perbandingan.
5. Pergunakan terus nilai ukuran standar tersebut secara konsisten dari event ke event dalam skala waktu.

[+/-] Selengkapnya...

Jadi James Bond yuuk...


Banyak dari peserta pameran (exhibitor) yang ketika berpameran berusaha mengumpulkan data-data ataupun analisa tentang kompetitor. Anda pernah memergoki kompetitor anda sedang merekam video atau foto tentang booth anda? Ya, data-data 'intelijen' ini akan mereka kumpulkan dan pelajari untuk memenangkan kompetisi! Fiuh...

Mungkin sepatutnya anda juga melakukan hal serupa.

Akan tetapi seharusnya anda sudah melakukan 'contra-spionase' jauh hari sebelum event itu berlangsung. Petakan kompetisi dengan melihat Floorplan lay-out dari Event Organizer! Lihatlah di dalam peta tersebut siapa saja kompetitor yang berada di dalam hall yang sama dengan booth anda. Kalau anda bisa memetakan kompetitor tentu anda akan lebih mudah dalam men-develope strateg iklan-nya, kan?

Jika ada kompetitor anda yang absen tidak ikut event kali ini (anda tidak melihat daftarnya di dalam peta floorplan, wah ini Missing In Action), maka cobalah kembangkan pertanyaan, 'Why?'. Justru disinilah letak titik crusial kompetisi. Mungkin saja:

1. Kompetitor anda sedang mengalami masalah financial. Thx God, it's the perfect time for you to capitalize!

2. Mungkin saja Event pameran yang akan anda ikuti tersebut diperkirakan akan mengalami kemunduran or setback. Dan anda tidak menyadarinya! Segera lebarkan telinga dan cari tahu kenapa. Seperti iklan rokok, tanya kenapa....?

3. Mungkin kompetitor anda sedang merancang sebuah private event dan berancang-ancang merampok pelanggan anda! Who knows?

Jadi tidak ada salahnya kan bermain-main sebagai James Bond ketika anda merencanakan next event dengan melihat floorplan. Yuuk..., begini tips (nakal)-nya: lakukan anonymous call ke MIA kompetitor(kompetitor yang tidak ada di peta floorplan). Semakin banyak data yang anda dapat, semakin mudah anda mengolah strateginya.

So, tunggu apalagi... Jadilah James Bond di awal perencanaan event. Ketika nanti saat event berlangsung dan kompetitor anda menjadi agen-foto, anda bisa ikutan mejeng tertawa cerah sambil acungkan jari: peace...,ah!

Jadi teringat sama tetangga jepang saya yang suka bilang; business is war. Wah..., wah... Mendingan ngobrol sama anak saya yang setiap kali bingung ditanya, selalu menjawab: auk ah, gelap....

[+/-] Selengkapnya...

Senin, Juli 21, 2008

Memilih Lokasi booth pameran

Pesta akbar pameran automotive Indonesian International Motor Show 2008 baru saja selesai. Tentu banyak yang bisa anda dapatkan sebagai review untuk next event pameran anda. Salah satu yang cukup penting dalam perencanaan awal adalah memilih lokasi pameran. Walau pun event berikutnya masih satu tahun di depan, tidak ada salahnya bagi anda untuk mulai meminta informasi dari event organizer tentang lokasi pameran. Biasanya EventOrganizer telah memiliki draft layout pameran untuk event mereka berikutnya 1 tahun di depan. Sebagai pendaftar pertama, tentu anda akan mendapat keleluasaan untuk memilih lokasi pameran. Dan jangan lupa diskon earlybird biasanya cukup lumayan untuk menghemat budget. Jadi tunggu apalagi, segera booking untuk next event pameran.... hehehe.

Lantas hal-hal apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam memilih lokasi booth pameran? Sedikit panduan dibawah ini mungkin bisa membantu:

1. Traffic pattern.
Tandailah dalam peta layout pameran volume traffic pengunjung terbesar dari arah mana. Lakukan study kecil berdasar pengalaman event yang telah dilakukan. Bisa dipastikan, bahwa traffic pengunjung di tahun depan masih akan memiliki pola yang sama. Lanjutkan dengan menandai peta layout tersebut area-area lainnya, semisal lounge, restaurant, exit-door, restroom, dan lain-lainya. Juga jangan lupa beri marking dengan warna lain di peta layout anda, apabila diperkirakan terjadi problem hambatan terhadap traffic, semisal kolom gedung, loading dock door, area kosong hall yang tidak terpakai (empty dead space).

2. Competitor's booth.
Mungkin ada sebagian dari anda yang memperdebatkan, bahwa lokasi yang berdekatan atau malah side-by-side terhadap kompetitor kurang menguntungkan. Yang bisa disarankan: jadikan 'kedekatan' itu sebagai keuntungan. Kenapa? Karena inilah kesempatan anda untuk menunjukkan kelebihan produk anda terhadap kompetitor. Mungkin saja produk anda sedikit lebih mahal, akan tetapi lebih bisa dipercaya, kualitas yang lebih baik, waktu produksi yang lebih singkat, after sales service yang bisa dibanggakan, atau lain-lain hal. Saya yakin anda pasti punya daftar yang panjang tentang 'peta' kekuatan produk anda. Jadi siapa takut....?

3. High Identify.
Pilihlah lokasi booth yang bisa memberi keleluasaan pandangan. Tentu kita berharap bahwa booth anda bisa terlihat dari semua arah traffic pengunjung, bukan? Ada banyak pilihan yang bisa anda lakukan agar booth terlihat dari semua arah apabila lokasi booth anda strategis. Misalnya dengan menggantung signage atau logo pada canopi atau struktur yang tinggi. Ambil rujukan pada batasan tinggi ceiling convention hall, atau aturan yang diberlakukan oleh event organizer pada buku manual mereka. Biasanya beda lokasi memiliki beda aturan batasan ketinggian pula.

Nah, rasanya ketiga hal diatas cukup sebagai dasar untuk merencanakan next event anda. Lain kali saya akan coba untuk menulis yang lebih lengkap lagi.

Oh ya, di event Indonesian International Motor show 2008 ini, DisainKaMI kebetulan membantu 2 exhibitors secara tidak langsung karena melalui perantara agency. Yang pertama adalah AUDI. Jika anda sempat datang ke pameran dan memperhatikan booth AUDI, maka seperti inilah designnya:

AUDI booth di IIMS 2008

AUDI booth di IIMS 2008

DisainKaMI juga membantu salah satu agency mendeveloped konsep acara untuk booth Daihatsu di event itu. Sayang sekali bahwa design yang diajukan memang hanya untuk supporting konsep, jadi bukan untuk booth design nya. Konsep acara hiburannya sendiri cukup unik, yaitu dengan melakukan atraksi tarian sambil bergelantungan. Mungkin ini yang pertama kali dilakukan di Indonesia, walaupun ide aslinya mencontek dari barat. Nama atraksinya dikenal sebagai Legs on The Wall.

Proposed design for Daihatsu at IIMS 2008

Proposed design for Daihatsu at IIMS 2008

Bagi anda yang tidak sempat menyaksikan atraksi Legs on The Walls dibooth Daihatsu, seperti inilah videonya:



Legs on The Walls

[+/-] Selengkapnya...

Merchandising Techniques

Masih tentang tips berpameran dengan booth space kecil yang di indonesia rata-rata ukurannya 4x3 m2 atau space ukuran sedang 6x4 m2

Kadang-kadang saya merasa geli sendiri jika melihat ada booth ukuran kecil yang dijejali oleh begitu banyak display produk di dalamnya. Semua dindingnya dipenuhi oleh rak-rak display. Begitu juga mejanya. Yang lebih konyol lagi apabila akses pengunjung terhalang oleh meja-meja display, sehingga hanya bisa berdiri di garis batas booth bagian luar. Ini mau mindahin toko/showroom ke arena pameran atau memang hanya mau berjualan sebanyak-banyaknya sebagai 'tujuan' pamerannya?

Barangkali memang jumlah produk yang dimiliki sangat banyak sedangkan luas booth yang mampu disewa hanya kecil, sehingga ketika memutuskan produk apa saja yang akan didisplay menjadi kerepotan tersendiri. Semuanya penting dan harus didisplay........, wah runyam.

Mungkin ada baiknya jika kita bisa meminjam pola pikir retailer produk anda.
Apa itu?
Perlakukan pengunjung pameran anda sebagai 'window shoppers' dan booth pameran anda sebagai 'display window' perusahaan anda. Perusahaan lho, ya... bukan produk. Tentu beda. Aturlah dan disainlah booth anda semenarik mungkin. Usahakan agar pengunjung yang menghampiri booth anda bisa mendapatkan kesan comfort, ramah, useful information dan focus. Jadi pilihlah dengan bijak produk apa saja yang bisa 'diandalkan' untuk meng-grabbing attention pengunjung pameran. And keep the rest hidden somewhere.

Wah, rugi dong kalau hanya sedikit produk yang dipamerkan...., kan produk saya banyak dan semuanya menarik? Hehehe.... repot kalau tetap ngotot seperti ini. Lebih repot lagi buat designer pameran seperti saya yang ketiban pe-er mendisplay.

Barangkali 'sentilan-nakal' saya ini bisa merubah paradigma. Alih-alih mampir dan berinteraksi dengan anda, mungkin dibenak pikiran pengunjung (bisa jadi calon potential customer anda) akan berpikir seperti ini; 'Ah, di toko sana (retailer anda) produknya lebih banyak yang terpajang, jadi buat apa saya mampir dan membuang waktu saya disini?'. Bisa dibayangkan berapa banyak investasi yang anda hamburkan di event pameran seperti itu, kan?

Jadi biarkan tugas menjual sebanyak-banyaknya dipikul oleh retailer anda. Tujuan anda berpameran adalah untuk membangun brand awareness dan membagi informasi. Lakukanlah ini untuk agenda event pameran anda berikutnya: tentukan produk yang akan didisplay, pilihlah thema, ciptakan suasana, kembangkan gimmick yang menarik... dan fokuskan semuanya kepada 'goals'.

Selamat berpameran...

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, Juli 20, 2008

10 tips untuk membuat booth kecil pameran anda powerfull

Sepuluh tips dibawah ini mungkin bisa membantu anda menciptakan booth kecil yang menarik dan powerfull. Dikumpulkan dari berbagai sumber dan terbukti sangat membantu.

1. Gunakan Lampu. Hampir semua convention centers memiliki penerangan gedung yang bagus. Anda boleh-boleh saja mengharapkan penerangan booth kecil anda pada existing lampu gedung tanpa perlu menambah lampu di dalam area booth anda demi alasan dana. Atau jika anda memiliki dana, dan ingin menggunakannya secara bijaksana bisa juga dengan cara menggantung lampu spotlight tambahan di langit-langit gedung convention. Sedikit berhemat tanpa perlu memikirkan konstruksi penggantung lampu. Tetapi apakah ini efektif? Berdasar hasil riset di industry pameran, penerangan yang baik, bagus dan menarik dapat meningkatkan awareness kepada pameran anda sebesar 30% persen sampai 50% persen. Luar biasa, bukan? Jadi kenapa anda tidak memikirkan untuk menginvestasikan dana dengan meminta exhibition designer merancang booth anda dengan tata lampu/penerangan yang menarik.

2. Lakukan pendekatan 'Novel'; kembangkan sebuah thema untuk booth anda. Keluarlah dari pendekatan traditional, dan biarkan itu menjadi milik peserta pameran dengan luas area yang besar karena memang mereka bisa berharap 'real estate' mereka menjadi stand out.

3. Usahakan untuk mendisplay produk dan nama perusahaan di sudut yang terlihat oleh pengunjung.

4. Simple and uncluttered. Gunakan satu atau dua produk saja untuk di display.

5. 'Size' everything to fit the booth. Buat apa mendisplay mobil apabila anda hanya ingin menjual velg-rodanya saja, misalnya. Gunakan bantuan multimedia monitor (TV atau plasma), poster atau graphic yang menarik. Juga jangan gunakan meja counter besar bekas pameran yang lalu (misalnya) demi alasan hemat biaya. Anda tentu tak ingin staff anda terlihat seperti orang kerdil di balik meja besar itu, kan?

6. Gunakan visual yang berpengaruh kuat dengan memakai graphic poster besar. Akan tetapi tetaplah ingat, jangan gunakan images/gambar-gambar besar di poster itu. Sisipkan copytext/kata-kata yang sesuai proporsi ukurannya pada poster tersebut. Jangan terlalu berlebih ukurannya juga jangan terlalu kecil ukurannya karena akan menjadi sulit terbaca dan terlewatkan.

7. Tempatkan graphics dibatas mata pengunjung. Garis bawah graphic idealnya dibatas 90 centimeter. Jika terlalu rendah nantinya mungkin bisa terhalang oleh display produk anda.

8. Gunakan paduan warna yang menarik, eye catching sehingga bisa stand out di arena pameran yang ramai. Anda tentu bisa membedakan warna menarik dengan warna norak, bukan?..... Warna-warna netral akan membuat booth kecil anda 'melarut' dikeramaian.

9. Jadikan pameran anda full service, bukannya 'self-service'. Lho, kok...? Maksudnya apa? Menyebar flyers, brochures, product samples and give away di meja display dimana pengunjung bisa mencomot sambil berjalan lewat, sebenarnya menggagalkan tujuan anda mengikuti pameran. Ingat, tujuan anda berpameran adalah untuk berinteraksi dengan pengunjung. Sukur-sukur bisa memberikan informasi detail dan pengalaman (experiential marketing) tentang produk anda. Bagaimana dengan standguide/stand promotion girls yang biasanya berdiri dan tersenyum manis sambil berusaha membagikan flyers atau brochures sebanyak banyaknya kepada pengunjung yang lewat? Anda bisa buktikan sendiri dengan mengintip tempat sampah yang biasanya berada di pintu keluar convention center. Semoga flyers dan brochures produk anda tidak terselip disana, hehehe...

10. Jika memang dana terbatas akan tetapi memiliki rencana untuk mengikuti beberapa pameran, berinvestasilah dengan membeli modular system. Ada beberapa modular system yang bisa di kostumisasi bentuknya, atau diganti graphicsnya sehingga bisa memberi kesan bagus;' finished-look'. Meja info standar yang dibalut skerting kain sudah lewat era-nya, hehehe...

[+/-] Selengkapnya...